(cerpen) JANJI UNTUK GEOVANDI

by - 08.45

(cerpen)

JANJI UNTUK GEOVANDI
karya : Shaumi


"pelangi tak berujung
lingkaran pun tak berujung
begitu pula persahabatan kita yang tak berujung"


Hello, kenalin aku Aska. Aku seorang murid kelas 5 sd. Aku memiliki seorang sahabat bernama Geovandi. Dia sahabat terbaikku sepanjang masa. Setiap hari aku dan Geovandi bermain bersama. Tapi suatu hari aku tak bisa bermain dengannya karena suatu hal.

"Geovandi, maaf hari ini kita tak bisa bermain." ucapku sedih.
"Ok, baiklah." jawabnya.

Aku pun segera pulang ke rumah.
"Aska, cepat bereskan barangmu." ucap mama saat aku tiba di ruang tamu.
"Baik.." jawabku.
Aku pun langsung berlari ke kamar dan membereskan barang yang aku bawa untuk pergi ke rumah oma di Makassar. Setelah selesai, aku langsung berlari keluar rumah dan memasukkan tas yang berisi barang-barang pribadiku ke dalam mobil. Lalu, kami sekeluarga pun berangkat.

Di kamar Geovandi.
"Vandi..." panggil mama Geovandi dari luar kamar.
"Kenapa , ma??" jawabnya.
"Cepat mandi, sudah sore." ucap mama kembali.
Geovandi pun segera keluar kamar dan menuju ke kamar mandi.

Keesokkan harinya.

Aku sudah sampai di Makassar. Pagi ini sangatlah cerah, aku berniat untuk bermain di dekat sungai bersama sepupuku. Tetapi, sepupuku terkena demam secara tiba-tiba. Uh, hal itu membuatku kesal.
"Andai saja ada Vandi. Aku jadi tidak kesepian seperti ini!" ucapku kesal sambil menendang air di dalam kolam ikan di depan rumah oma.

"Aska, kemari nak." panggil mama dari dalam rumah oma.
Aku tersentak kaget dan hampir jatuh ke dalam kolam. Untung saja Tuhan menyelamatkanku. Aku pun segera berlari ke dalam rumah dan menuju mama berdiri.
"Ada apa, ma?" tanyaku dengan nafas terengah-engah.
"Begini, karena mas Anwar sakit demam. Bagaimana kalau kamu bermain saja dengan Dina?" tawar mama.
"Dina?" jawabku dengan nada kaget.
"Iya, kalau kamu mau bermain dengannya, kamu sekarang datang saja ke taman belakang rumah oma. Dia sedang duduk disana." ucap mama sambil tersenyum.
"Uh, baiklah." jawabku malas.
"Hati-hati sayang.."

Kalian tahu bagaimana rasanya kalau seorang anak laki-laki bermain dengan anak perempuan? Kalau menurutku itu hal yang amat sangat membosankan dan menyebalkan. Apalagi bila anak perempuan itu cengeng. Uh sebal!
Dengan terpaksa aku pun berjalan ke taman belakang dan mengajak Dina bermain. Meski membosankan, aku tetap menjalankannya sampai malam tiba.

5 hari kemudian.
Aku sangat merindukan sahabatku Geovandi. Semenjak aku pergi ke Makassar, aku tidak dapat mengetahui satu pun kabar tentang sahabatku itu. Hatiku merasa resah, aku takut sahabatku itu sedang dalam masalah atau kesulitan. Tapi, aku terus berdoa agar Tuhan selalu melindunginya.

Malam hari, tepat pukul 22.15
"Aska, bangun.."
Terdengar suara mama membangunkanku. Aku pun membuka mataku yang masih terasa berat.
"Ada apa , ma?" tanyaku dengan nada pelan.
"Cepat cuci mukamu dulu. Ada kabar mengenai Geovandi." jawab mama dengan raut wajah sedih.
Aku pun langsung membuka mataku selebar mungkin dan langsung berlari ke arah kamar mandi untuk mencuci muka.
"Geovandi kenapa , ma??" tanyaku panik.
"Tadi Ibunya menelfon mama. Katanya, kemarin Geovandi terjatuh dari tangga, lalu kaki dan tangannya patah. Kepalanya pun sedikit terluka." jawab mama.
Aku pun langsung menangis kejar, "Mama bo..bo..bohongkan??" suaraku tersendat-sendat. "Geovandi tidak apa-apa kan ma...??" tanyaku lagi.
Mama pun memelukku dengan hangat. "Sabar sayang, kita berdoa saja agar Geovandi tidak apa-apa. Besok kita pulang ya ke Jakarta, bagaimana?" tanya mama sambil mengelus rambutku seraya menenangkanku. Aku pun hanya bisa menganggukkan kepala.

Keesokkan harinya.
Aku dan kedua orang tuaku segera berkemas. Setelah berpamitan kami pun pergi. Di jalan aku terus berdoa agar sahabatku dilindungi oleh Tuhan.

Sesampainya di Jakarta.
Untung saja jalan sangat lancar dan aku pun dapat kembali ke Jakarta sore harinya. Aku langsung pergi ke rumah Geovandi. Tetapi, banyak sekali orang yang berdatangan ke rumahnya. Aku heran dan bingung. Akhirnya aku pun kembali ke rumah dan mengajak Ibuku agar menemaniku ke rumah Geovandi.

"Vandi....." panggilku saat tiba di depan rumahnya.
Ibu Geovandi pun keluar. Mukanya merah dan lemas, pipinya basah oleh air mata. Aku pun segera bertanya, "Tante, Vandi mana?" tanyaku.
Tanpa sepatah kata pun, Ibu Geovandi mengajakku dan Ibuku untuk masuk ke dalam.
Di ruang tamu tampak banyak orang sedang berkumpul dengan menggunakan pakaian hitam.
"Aska, Vandi sedang tertidur disana." ucap Ibu Geovandi bercampur isak tangisnya.
Aku tak dapat berkata apa-apa, aku langsung berlari dan melihat sesosok mayat yang terbaring di sebuah peti. Tidak! Sahabatku yang malang! Air mataku menetes membahasi pipi dan bajuku. Mama segera menenangkanku. "Sabar sayang sabar, relakanlah sahabatmu. Dia pasti sudah tenang di atas sana." ucap mama.

Menurutku, itu adalah hari terburuk dalam hidupku. Andai saja aku tidak membatalkan saat aku ingin bermain dengan Vandi. Andai saja aku tidak pergi ke Makassar. Andai saja semua ini bisa diulang kembali!! Aku kesal pada diriku yang telah menyia-nyiakan sahabat terbaikku! Tuhan, aku mohon dengan sangat, aku mohon agar Kau menjaga sahabat terbaikku disana. Tuhan, tolong sampaikan salam kepada Geovandi bahwa aku tetap menganggapnya sebagai sahabat seumur hidupku.

Ibu Geovandi memberiku selembar surat yang ditulis oleh Geovandi untukku, isinya :

"Sahabatku Aska, terima kasih untuk hari-hari yang selama ini kau isi bersamaku. Aku sangat senang memiliki sahabat sepertimu. Aku sedikit kecewa saat hari itu kita tidak jadi bermain, tapi aku memendam perasaan kesalku. Aku harap kita bisa bermain bersama lagi ya!! Janji?? Kabarkan aku kalau kau sudah pulang ya.. :)"

"Vandi... aku janji suatu saat nanti kita akan bermain bersama kembali diatas sana...." ucapku di dalam hati.




:) terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kawan, sahabat itu sangat penting bagi hidup kita. Maka dari itu, saat kau memiliki sahabat yang sangat kau sayangi, jagalah persahabatan kalian jangan sampai hancur dan kalian menyesal.





You May Also Like

0 komentar