#ffKorea "Melodi Terindah" part 1 of 2

by - 06.44

#FF Korea "Melodi Terindah" part 1 of 2

Genre : Romance, Slice of Life, School Life.
Age : 14-15+ /maybe.haha
Cast : ▼Chen EXO
           ▼Xiumin EXO
           ▼Han Seung Ra (author)

Nah, ini FF Korea kedua yang gw buat, masih requestan dari temen. Kali ini gw buat bersambung, 2 part. Maaf kalau banyak typo kata/ketikan. Hope u enjoy and like it guys. Happy reading..(ゝ。∂)




-----

Melodi Terindah



"Eung, Hey bangun! Dasar pemalas. Bangun! Ibu sudah menyiapkan sarapan untuk kau nona muda yang malas."

Ah, suara itu selalu mengangguku di pagi hari.
"Beri aku waktu 5 menit." pintaku lemas dan masih memejamkan mata.
"Kau ini!"
"Eh?Tu..turunkan aku!" mataku langsung terbuka lebar dan aku memberontak agar dia tidak menggendongku. Tapi lelaki satu ini tidak meladeni ucapanku, ia terus menggendongku ke arah kamar mandi.
"Chen! Turunkan aku! Aku bukan anak kecil!" ucapku kembali dengan nada sedikit kesal. Chen. Ia adalah kakak laki-lakiku, dia sangat baik kepadaku tapi kadang menyebalkan juga bagiku. Kebiasaan setiap pagi seperti tadi selalu rutin ia lakukan, ah! menggangguku saja.
"Cepat mandi, aku akan menyiapkan bajumu. Jangan lama!" perintahnya.
"Hu Chen cerewet!" ejekku dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
"Kau..!" raut wajahnya berubah kesal. Aku hanya tertawa kecil di balik pintu kamar mandi membayangkan ekspresi yang dibentuk oleh wajah kakak laki-lakiku, Chen.

"Ibu, kami berangkat!" ucapku setelah kedua tali sepatuku terikat sempurna.
"Cepatlah Eung, kita akan terlambat." ucap Chen yang sudah terduduk diatas motornya. Ia terlihat keren kalau menaiki motor.
"Hey!" sahutnya kembali. Aku segera tersadar dan berlari ke arahnya.

Akhirnya kami sampai di SMA Noemu. Han Seung Ra adalah namaku. "Eung", nama panggilan bodoh yang dibuat oleh kakak laki-lakiku. Aku adalah seorang siswi kelas 12-4 dan kakakku adalah seorang mahasiswa di sebuah Universitas ternama di Korea. Tetapi selama 1 minggu ia menjalani training menjadi seorang guru mata pelajaran Fisika di sekolahku. Dia memang anak yang cerdas, benar-benar cerdas.
"Pulang sekolah nanti, tunggu aku di parkiran." ucapnya.
"Ya. Sampai jumpa." sahutku sambil melambaikan tangan ke arahnya.

"Eeh? Riyu tidak datang?" tanyaku kepada Hyurin.
"Ya, dia sakit. Apa kau tau?" jawab Hyurin, ia teman sekelasku.
"Tidak. Ah, aku bosan duduk sendiri." keluhku.
Bel telah berbunyi dan pelajaram di mulai. Hari ini wali kelasku yang masuk, sepertinya ada murid pindahan yang akan masuk ke kelas ini. Ah aku tak peduli.
"Xiumin, silahkan perkenalkan dirimu." ucap wali kelasku kepada si murid baru. He? Sepertinya anak ini bukan dari kalangan biasa. Wajahnya begitu lembut dan cantik. Suaranya sangat manis didengar. Orang macam apa dia? Apa dia malaikat dari surga yang menjelma menjadi manusia lalu turun ke bumi? Khayalanku terlalu tinggi. Bodoh!
"Nama saya Xiumin. salam kenal." ucapnya begitu tenang.
"Hm, kamu duduk di samping Han Seung Ra ya."
Anak baru itu. Xiumin. Ia duduk sebangku denganku.
"Tapi, Pak. Ini bangkunya Riyu." ucapku.
"Itu urusan mudah. Selamat melanjutkan pelajaran kembali. Bapak permisi." jawabnya singkat lalu berjalan keluar kelas.
"Ah! Bodoh!" ucapku kesal di dalam hati. Aku terus memalingkan wajahku dari anak baru ini, Xiumin.
"Hey, nona muda yang galak." ucap Xiumin sambil mengetukkan ujung pulpennya ke bahuku.
"Siapa yang kau sebut galak?" jawabku kesal.
"Dirimu." jawabnya singkat dan kembali menatap kearah buku catatannya.
"Apa yang kau inginkan dariku, Xiumin?" tanyaku.
"Aku lapar. Apa boleh aku pergi ke kantin sekarang?" tanyanya dengan posisi dagu diatas meja. Lalu ia menoleh kearahku dan menatap mataku. Sepertinya wajahku memerah dan jantungku berdetak kencang. Aku memalingkan wajahku.
"Terserahnu kalau kau mau." jawabku singkat.
"Ah..tapi ini masih jam pelajaran." ucapnya kesal.
"Kau tau. Dasar bodoh." aku menggelengkan kepalaku pelan dan menghela nafas.
"Aku bisa mati kelaparan disini." keluhnya, mukanya pucat. Apa dia benar-benar akan mati?
"Nih." Aku mengeluarkan 2 permen coklat dari saku bajuku. Makanan cadangan untuk mengganjal perutku apabila keroncongan.
"Wah..terimakasih nona muda yang baik hati." jawabnya girang, ekspresi wajahnya begitu menggemaskan seperti puffy yang minta dielus.
"Hey Han Seung Ra! Apa kau sudah cukup pintar sampai tidak memerhatikan pelajaran saya?" tiba-tiba guruku menyahut dari depan.
"Maafkan saya, Pak. Saya akan memerhatikan." jawabku terbata-bata. Aku menoleh ke Xiumin dan ia tertawa kecil. Ia menertawaiku? Xiumin bodoh!

Akhirnya hari melelahkan sekolah pun usai.
"Bagaimana hari ini?" tanya Chen yang sedang menyalakan mesin motornya.
"Cukup menyenangkan." jawabku sambil menaiki motor.
Chen pun menancap gas.

Keesokannya, hari-hari sekolah tiba kembali. Hari ini Riyu masih tidak masuk sekolah, kabarnya ia dirawat di rumah sakit luar kota. Ah malangnya sahabatku itu, cepat sembuh ya.
"Hey, nona muda!" sahut seseorang yang suaranya tak asing bagiku.
"Sedang apa kau duduk sendirian di bawah pohon ini?"
"Ah, kau. Tidak ada." jawabku yang segera melihat kearah Xiumin yang telah duduk tepat disamping kiriku.
"Hey nona muda..." ucapnya terputus.
"Namaku Han-Seung-Ra, jangan sebut sebut aku nona muda, Xiumin!" ucapku kesal.
"Iya baiklah aku mengerti." ia mengangguk seakan menandakan bahwa iya mengerti ucapanku.
"Apa yang kau inginkan?" tanyaku.
"Ah iya, pulang sekolah nanti apa kau ada acara?" tanyanya.
"Tidak. Kenapa?" tanyaku.
"Temani aku pergi. Kau mau? Anggap saja ini imbalan terimakasihku atas coklatmu kemarin." jawabnya.
"Hal sekecil itu tidak perlu kau pikirkan. Bodoh!" jawabku. Aku menengok ke arah Xiumin. Ia menatap kedua bola mataku tajam, mataku tidak bisa memalingkan tatapan itu. Matanya begitu indah, cahaya matahari membuat matanya seakan bersinar layaknya bintang kejora di angkasa malam. Tiba-tiba, jari jemarinya membelai rambutku begitu lembut dan perlahan. Xiumin mendekatkan bibirnya keujung rambutku dan menciumnya begitu lembut. Jantungku berdetak begitu kencang. Aku hanya terdiam menatap Xiumin.
"Sepulang sekolah nanti, aku akan menunggumu di gerbang." ucapnya tiba-tiba dan beranjak dari tempatnya. Lalu, ia berjalan pergi menjauh sambil melambaikan tangannya ke arahku. Aku masih tidak bisa percaya oleh kejadian yang aku alami tadi. Apa itu nyata? Aku menghela nafas panjang dan memegangi rambutku yang ia cium dengan bibirnya. Aroma manis dan lembut Xiumin masih begitu terasa, seakan ia terus berada disampingku.

Pelajaran telah usai. Aku segera berlari ke parkiran untuk menemui Chen.
"hosh..hosh.. Chen!" nafasku terengah-engah.
"Hey jangan lari terburu-buru seperti itu." jawabnya sambil memberikan sebotol minum dan tissu.
"Hari ini aku tidak pulang bersamamu. Aku ada urusan sebentar, tapi aku janji tidak akan pulang malam. Sampaikan ke Ibu ya!" ucapku.
"Oy!" tiba-tiba suara Xiumin terdengar dari arah gerbang. Ia menatapku sambil melambaikan tangannya.
"Ah, aku duluan ya. Sampai jumpa, kak." ucapku yang segera berlari ke arah Xiumin.

Aku dan Xiumin berjalan bersama ke sebuah studio musik.
"Untuk apa kesini?" tanyaku bingung yang baru saja memasuki gedung studio musik teraebut. Wah, ternyata isi gedung studio ini lebih memikat mata dibandingkan dengan luar gedung ini.
"Ikut aku." Xiumin tak menjawab pertanyaanku. Ia menarik tanganku dan menuntunku ke sebuah ruangan. Di ruangan itu terdapat sebuah piano besar yang antik, kayunya masih teelihat bagus dan kokoh, begitu berkilauan. "Han Seung Ra, kau duduk disitu." pintanya. Aku pun menurutinya dan duduk di sebuah bangku tepat disamping kirinya.
"Apa kau akan memainkan piano ini?" tanyaku sedikit bingung. Tanpa banyak berucap, Xiumin langsung memainkan piano tersebut, sentuhan dan gerakan jari jemarinya begitu lembut dan mengagumkan. Lagu yang ia mainkan pun terdengar sangat menenangkan hati. Ia terus fokus memainkan piano tersebut layaknya seorang profesional yang handal. Lalu ia berhenti, menandakan permainannya telah selesai. Aku menepukkan tanganku dan terseyum lebar ke arahnya.
"Wa..kau keren!" seruku.
"Mau ku ajari bermain piano?" tanyanya sambil membelai lembut rambutku. "Kau duduk disini, letakkan tanganmu di bawah tanganku. Rileks saja." ucapnya. Tangan kami saling bersentuhan. Telapak tangan Xiumin begitu lembut dan hangat, kurasa tanganku menjadi kaku gemetaran. Suara Xiumin tepat terdengar di samping telinga kananku, suaranya yang cukup berat dan desah nafasnya membuatku setengah pingsan. Ya Tuhan apa aku akan mati?
"Nona muda! Kau tidak mendengarkanku ya? Kau memikirkan apa?" suara Xiumin menyadarkanku kembali. Aku tersentak kaget.
"Xiumin, apa kau pernah menyukai seseorang?" tanyaku.
Xiumin hanya diam tak menjawab. "Besok kau ke rumahku, aku akan mengajarimu bermain piano. Apa kau bisa?" ia hanya berbalik bertanya. Aku kesal dan aku hanya menganggukan kepala kepada Xiumin. Ia aneh, kenapa ia tidak mau jawab?

"Aku pulang." seruku saat menginjak lantai rumah. Di rumah hanya ada aku dan Chen.
"Jauhi laki-laki itu." tiba-tiba Chen muncul di depanku dengan raut wajah kesal.
"Apa maksudmu?" tanyaku bingung.
"Kalau kau masih keras kepala, aku yang akan melenyapkan anak itu!" ucap Chen begitu emosi.
"Memangnya apa urusannya denganmu? Aku dan Xiumin hanya teman. Kau tidak berhak melarangku, Chen! Meskipun kau seorang kakakku!" ucapku kesal, aku segera lari ke kamarku dan meninggalkan Chen di ruang depan.


To be continued__--♥

You May Also Like

0 komentar