#ffKorea "Melodi Terindah" part 2of 2 (ending)

by - 07.42

#FF Korea "Melodi Terindah" part 2 of 2 (ending)

Genre : Romance, Slice of Life, School life.
Age : 14-15+/maybe.haha
Cast : ▼Chen EXO
           ▼Xiumin EXO
           ▼Han Seung Ra (author)

Nah ini lanjutan dari ff kedua yang gw buat. Maaf untuk typo kata/ketikan, maaf juga kalau endingnya kecepetan/berlebihan[?] Hahaha. Ya, hope u enjoy and like it guys. Muah ;*




-----

Melodi Terindah



"Jauhi laki-laki itu."
"Kalau kau masih keras kepala, aku yang akan melenyapkan anak itu."
Ucapan Chen kemarin malam memenuhi pikiranku. Apa yang ia maksud? Memangnya Xiumin itu orang jahat? Chen, kau terlalu protektif. Ah kepalaku semakin pusing.
"Nona muda." sahut Xiumin yang sedang berdiri di depanku. "Lemas sekali. Pulang sekolah kau bisa ke rumahku, Eung?" tanya Xiumin.
"Tentu saja, Chen." jawabku.
"Chen?" tanya Xiumin kebingungan. Aku segera tersadar bahwa yang berada di depanku ini Xiumin, bukan Chen.
"Ah, maaf. Kenapa kau memanggilku Eung?" tanyaku sambil merapihkan rambutku yang berantakan.
"Apa tidak boleh?" ia bertanya balik. Menyebalkan tidak ia jawab.
"Um, terserah sih." jawabku lemas.

Hari ini aku tidak pulang bersama Chen lagi. Aku pergi ke rumah Xiumin untuk diajari bermain piano.
"Rumahmu sepi sekali?" tanyaku sambil melihat ke kanan dan kiri ruang tamu yang besarnya hampir seperti satu rumahku.
"Aku tinggal sendirian. Orang tuaku bekerja diluar negeri. Kau ingin minum apa?" jawab Xiumin sambil meletakkan tasnya diatas sofa.
"Terserah kau saja." jawabku sambil mengikutinya ke dapur. Dapurnya besar dan semua peralatan tertata rapih sekali. "Ah Xiumin, kau membuat apa?" tanyaku.
"Orange juice, apa kau suka?" tanyanya sambil memegang sebuah jeruk dan ia tersenyum manis sekali ke arahku. Jantungku berdebar kencang, aku memalingkan wajahku ke objek lain.
Kami pun kembali ke ruang tamu.


"Sekarang kita ke kamarku." ucapnya. Aku tersedak kaget. "Eh? Pelan-pelan nona muda. Tenang saja, aku tak akan berbuat kotor seperti pikiranmu Han Seung Ra. hahaha.." jawabnya sambil tertawa terbahak-bahak. Mukaku memerah, dia menebak pikiranku. "Nona muda, lihat sini." jari telunjuk Xiumin memegang daguku dan mengangkat daguku keatas secara perlahan. Mata kami bertemu, ia menatapku dan mendekatkan wajahnya ke arahku. Aku memejamkan mata ketakutan. Ada yang menyentuh bibirku. HE? Aku langsung membuka mata dan menjauh dari Xiumin.
"Ka..Kau!" ucapku terbata-bata.
"Aku hanya mengelap bibirmu dengan tissu ini, apa salah?" jelasnya sambil menunjukan tissu yang ia pakai untuk mengelap bibirku. Mukaku semakin memerah, jantungku berdebar tak karuan. "Ikuti aku, latihan akan dimulai." ucapnya yang bergegas berdiri dari sofa.

"Kamarmu terlalu rapih untuk seorang laki-laki, Xiumin." ucapku saat pertama kali memasuki kamar Xiumin.
"Nona muda yang cerewet!" jawab Xiumin sambil mencubit hidungku.
"Han-Seung-Ra!" kesalku.
"Oke Han-Seung-Ra, kita mulai latihannya." ucapnya sambil menarik tanganku kearah kursi piano.

"Ah aku lelah! Aku tidak bisa." keluhku kesal.
"Kau cepat sekali menyerah. Kalau kau bisa bermain lebih baik, aku akan memberimu hadiah." ucapnya menyemangatiku.
"Bodoh!" balasku sambil memalingkan muka darinya. Mukaku memerah.
"Kalau kau tidak mau tak apa. Dasar nona muda yang keras kepala." ucap Xiumin sambil memukul pelan kepalaku. "Ayo mulai lagi!" serunya bersemangat.

Akhirnya aku dan Xiumin keasikkan bermain, malam sudah tiba dan aku baru sampai rumah. Chen, pasti sudah memarahiku.
"Aku pulang." ucapku saat memasuki rumah. "Chen? Apa kau di rumah?" tanyaku sambil mengelilingi rumah. "Chen? Hey, jangan bercanda! Ini tidak lucu!" ucapku kesal. Kemana dia? Apa dia pergi? Apa mungkin ia di kamarnya? Aku pun langsung berlari ke kamar Chen.
*Brraakk!!!*
"Chen!!" teriakku. Kamarnya kosong dan masih tertata rapih. "Apa kakak di tempat itu?" Aku berlari keluar kamar dan meninggalkan rumah. Aku harap Chen ada di tempat itu. Chen jangan hilang!
"Hosh..hosh.." nafasku terengah-engah. Mataku terpaku kepada seorang laki-laki sedang duduk di sebuah ayunan. Ia menatap ke arah langit yang gelap dan hampa. Sesekali ia menghisap batang rokoknya yang terbakar dan menghembuskan asapnya ke arah langit. Aku langsung berlari ke arahnya. Nafasku terengah-engah dan kepalaku sedikit pusing. "Kenapa kau tidak di rumah, Chen? Apa kau marah denganku karena aku membantahmu? Tapi aku dan Xiu..." ucapanku terputus, Chen langsung berdiri dan menatap mataku tajam.
"Aku tidak marah." jawabnya singkat. Ia pun berbalik badan berjalan menjauhiku.
"Chen, ku mohon pulang ke rumah! Chen!" Ia tak menghiraukan teriakanku dan berjalan semakin menjauh. Aku terjatuh ke atas tanah, kepalaku semakin berat. Malam itu begitu dingin dan menyesakkan. Mataku terpejam perlahan dan aku tertidur diatas tanah. Apa aku mati?

"Han Seung Ra? Apa kau sudah sadar?" Suara ini tidak asing ku dengar. Aku membuka mataku dan melihat Xiumin dengan wajah cemas menatapku. Kenapa dia ada disini? Xiumin membantuku bangkit dari tempat tidur. Ia mendudukanku di sebuah sofa. "Kau sudah siuman bukan? Ada yang ingin aku sampaikan, berkaitan dengan kakakmu. Chen." ucapnya.
"Bagaimana kau tau..." tanyaku terputus.
"Kau tau, ini kedengarannya cukup bodoh. Dulu aku mempunyai seorang kakak perempuan, dia seumuran dengan kakakmu." ucapnya dengan kepala tertunduk dan tawa kecil. Xiumin seperti gila.
"Lalu?" mataku terbuka lebar dan sangat penasaran apa yang ia maksud.
"Kakakmu, Chen. Berpacaran dengan kakakku. Jujur saja aku tak suka itu karena aku mencintai kakakku. Bukan sebagai kakak, kau tau? Aku tau cinta seperti itu terlarang. Saat itu kakakku terserang penyakit kanker paru-paru, ia tak mau kalau Chen tau akan hal itu. Ia menyuruhku untuk diam, oke aku lakukan itu. Tapi aku tidak bisa melihat kakakku memaksakan dirinya seperti itu. Akhirnya aku pun berbicara kepada Chen soal penyakit kakakku, tapi ia tak mau berpisah dengan kakakku. Ia tetap keras kepala. Aku pun berkata kepadanya bahwa aku mencintai kakakku lebih dari dirinya. Chen menghajarku dan ia pergi. 2 hari setelah kejadian itu, kakakku meninggal dan memberikan ini kepadaku. Sebuah kalung berbentuk kunci G, ia berpesan untuk memberikan kalung ini kepada orang yang benar-benar aku cintai." ucapnya panjang lebar. Aku hanya diam tak percaya ucapannya.
"Xiumin, kau benar-benar bodoh!" ucapku.
"Aku tau! Aku tau itu! Tapi aku tak akan bodoh seperti itu lagi! Kau tau Han Seung Ra, aku mencintaimu seperti aku mencintai kakakku. Tapi lebih dari itu." ucapnya sambil meneteskan air mata.
"Xi..Xiumin.."
"Aku akan membuat kakakmu setuju dengan hubungan kita." ucapnya.
"Xiumin, aku mencintaimu. Aku mencintaimu seperti alunan nada piano yang kau mainkan. Kau melodiku, melodi terindahku, Xiumin. Meskipun kau mencintaiku sebagaimana kau mencintai kakakmu, aku tak masalah, aku akan menunggu sampai kau dapat merubah itu semua." aku berkata tak terkontrol, mukaku memerah dan jantungku berdebar begitu kencang. Xiumin tersenyum dan memelukku erat.
"Hey Eung!" seru seseorang dari belakangku. "Sampai kapan kalian akan berpelukan seperti itu ha?" serunya lagi. Langkah kakinya mendekat.
"Chen!! Chen ku kira kau tak akan menemuiku lagi.hiks.." aku memeluk Chen erat sambil menangis. Chen membalas memelukku erat, ia mencium keningku dan mengelus lembut rambutku. Hangat pelukannya, aku rindu itu.
"Kau kemana semalam?" tanyaku. Chen mengelap air mataku yang jatuh di pipi.
"Aku sedang menenangkan diri, aku tau kejadiaan dulu adalah salahku. Kau Xiumin, jaga adik perempuanku baik-baik. Kalau tidak, akan aku lenyapkan kau." ucap Chen.
"Aku pasti akan menjaganya." jawab Xiumin.
Chen tersenyum kearahku. Lalu ia pergi meninggalkan kami berdua.

"Xi..." ucapku terputus.
"YEY! Han-Seung-Ra , kau nona muda yang keras kepala dan egois." ucap Xiumin kegirangan.
"Lepaskan aku! Bodoh!" aku memberontak dan berusaha melepaskan pelukkannya. Kami pun terjatuh, Xiumin menimpa badanku. "Xiumin...!!" Ia menatap mataku sambil tersenyum manis. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, aku memejamkan mata. Chu~
"Hey buka matamu." ucap Xiumin.
Aku membuka mata, "Eh, kening?" ucapku kaget.
"Bibirmu itu nanti saja kalau kita sudah menikah ya. Hahaha. Nih, kalung sebagai pembuktian cintaku untukmu." ucapnya sambil tertawa. Mukaku merah terbakar, kenapa aku bisa berpikir hal kotor seperti itu? Uh! "Ayo bangun, ku pakaikan ya." Xiumin memakaikan kalung dengan liontin berbentuk kunci G di leherku.
"Indah sekali." ucapku.
"Seperti yang memakainya.hahaha, Hey aku lapar. Sepertinya aku akan memakanmu!" serunya bersemangat.
"Eh?! Xi..Xiumin!!!" Xiumin melompat ke arahku dan menggelitikiku. "Xi..Xiumin hentikan! Hey! Geli!" aku memberontak.
"Eung, mau berlatih piano bersama lagi? Hadiahmu masih menanti loh." ucapnya.
"Hadiah?" tanyaku.
Xiumin tersenyum licik. "Aku mencintaimu, Han Seung Ra." ia pun memelukku dan mencium keningku.
Xiumin, aku juga mencintaimu.

You May Also Like

0 komentar