#ffKorea "Two Different, One Love" (oneshoot)

by - 08.49

Hello readers, apa kabar? udah lama banget gak ada post baru di blog ini.
Sekarang gue mau ngepost salah satu FF EXO yang udah pernah gue post di akun wattpad gue daripada blog ini sepi kan. Sebelumnya maaf kalau ada typo atau sedikit perbedaan dengan yang gue post di wattpad. So, happy reading!





TWO DIFFERENT, ONE LOVE
"2 Perbedaan, 1 Cinta"

Cast     :
·         You a.k.a Park Ki Mi
·         D.O EXO a.k.a Kyungsoo
·         Lay EXO a.k.a Lay
·         Xiumin EXO a.k.a Xiumin
·         Huang Zi Tao a.k.a Tao
·         Kai EXO a.k.a Kai
·         Chen EXO a.k.a Chen
·         Xi Luhan a.k.a Luhan

Genre  : Romance, Fantasy
Rate     : T


"Apa kamu tahu? Terkadang… perbedaan bisa menyatukan kita atau bahkan memisahkan kita. Mana yang akan kamu pilih?
Kyungsoo… bangsa kita sudah berbeda, tapi aku tidak mau berpisah darimu. Apa boleh begitu?"

  •  
  •  
  •  

Aku—Park Ki Mi, seorang gadis berdarah keturunan Vampire. Sedangkan, Do Kyungsoo, ia dari bangsa lain, yaitu manusia. Kami terjalin dalam sebuah hubungan yang disebut dengan ‘cinta’ yang begitu berliku dan rumit. Kami tahu, bahwa kedua bangsa kami tidak akan bisa bersatu. Kecuali, aku mengubah Kyungsoo menjadi sebangsa denganku, tapi aku tidak bisa. Itu menyakitkan. Seandainya aku bisa menjadi sebangsanya, aku akan lakukan itu.

~ ~ ~

"Kimi, sedang apa kau duduk disitu? Ayah akan marah apabila melihatmu berkeliaran di tengah malam seperti ini." ucap salah satu kakak laki-laki ku yang tertua—Lay Oppa.
"Asal kau tidak memberitahunya, aku tidak akan terkena masalah, Lay." ucapku.
"Cepat kembali ke kamar, tidak baik untukmu berada sendiri di luar." ucap Lay kembali. Aku mengikuti perkataan Lay dan masuk ke dalam rumah.

Pagi telah tiba. Kami berempat, Aku Park Ki Mi dan ketiga kakak laki-lakiku bersiap-siap pergi ke sekolah yang sama dengan bangsa manusia. Lay kakak pertamaku, Tao kakak keduaku dan Xiumin kakak ketigaku.
"Berhentilah bermain-main Xiumin, kau bisa saja mengotori baju seragamku." ucap Tao yang sedang asik bermain dengan cermin dan sisirnya.
"Tidak usah belaga perfect kau, Tao." balas Xiumin berkacak pinggang.
"Ya! Kau ini..!" Tao berubah kesal dan mengepalkan tangannya.
"Sudah, hentikan pertikaian kalian berdua, jangan berperilaku seperti itu di depan adik perempuan kita." ucap Lay begitu lembut. Lay--ia memang seorang kakak laki-laki yang sangat lembut, disiplin dan bertanggung jawab. Tapi ia bisa saja berubah menjadi seorang vampire yang begitu haus darah dalam waktu tertentu. Kadang aku takut menjadi seorang vampire.
"Gwaencanha, jangan khawatirkan aku." balasku singkat.

Mobil kami tiba di depan sekolah. Akhirnya sampai juga, aku bisa bertemu dengan Kyungsoo secepatnya.

"Hey, pelan-pelan!" gerutu Tao kesal karena Xiumin tidak bisa diam.
"Tao, tersenyumlah. Lihat yeoja-yeoja disana itu, darah mereka masih segar dan manis. Sedikit senyumanmu bisa saja memikat mereka." ucap Xiumin sambil merangkul bahu Tao dan jari telunjuknya mengarah kepada siswi-siswi yang sedang menatap ke arah mereka sambil tersenyum—tepatnya terpesona.
"Aku tidak suka tebar pesona sepertimu." Tao tak menghiraukan ocehan Xiumin, ia hanya berjalan lurus memasuki gerbang sekolah.
"Kau ini, jaga sikapmu Xiumin." ucap Lay yang baru saja turun dari mobil.
"Ne, Araseo.. Aku dan Kimi ke kelas dulu. Sampai jumpa, Lay-hyung." Xiumin menarik tanganku dan kami berjalan bersama ke kelas.

Di lorong menuju ke kelasku.
"Ah, lihat itu.. Xiumin! Dia benar-benar seperti pangeran. Andai saja dia itu namjachingu ku." para siswi di sekelilingku berteriak histeris. Apalah spesialnya kakakku yang kekanak-kanakan ini. Ya ampun, sebodoh apa kalian sampai menyukainya?
"Hey, kau pasti sedang menjelek-jelekanku ne?" ucap Xiumin tiba-tiba merangkul bahuku.
"Sudah sana, kembali ke kelasmu, sampai jumpa." ucapku sambil berjalan memasuki kelas dan meninggalkan Xiumin di lorong.

Aku menarik nafas panjang dan duduk di bangkuku.
"Kau beruntung sekali ya, Kimi." ucap salah satu temanku.
"Xiumin maksudmu?" balasku bertanya.
"Ne tentu saja, ketiga kakak laki-lakimu itu adalah namja impian semua siswi disini. Ah aku iri padamu! Hahaha.." ucap temanku histeris.
"Jangan mau sama mereka bertiga, mereka tidak baik untuk kalian." balasku.
"Ah Kimi.. Kau jangan begitu, aku tahu kau sayang ketiga kakakmu kan? Dan ingin menikmati ups memonopoli mereka sendirian bukan?" ledek Yoomi. Dia adalah teman sebangkuku.
"Jangan berpikiran bodoh, Yoomi." balasku sambil mencubit pipinya yang putih dan chubby itu.

Bel telah berbunyi, menandakan jam pelajaran dimulai. Hari ini Kyungsoo tampak keren dan berkarisma dengan tatanan rambut dan seragamnya yang begitu rapih. Dia memang namja impianku selama ini. Bentuk bibirnya saat tersenyum…Oh Tuhan itu indah sekali. Mataku terus terpaku menatap Kyungsoo yang duduk dua bangku di depanku, hanya saja ia dibarisan ke dua dari barisanku. Sesekali aku melirik ke arah guru agar aku tidak ketahuan. Tapi, kali ini bukan hari keberuntunganku.
"Park Ki Mi! Jangan melamun terus! Perhatikan ke depan." ucap pak.Chen, guru fisikaku. Ia adalah guru yang pintar dan sangat disiplin. Kalian tahu, pak.Chen ini bukanlah bangsa manusia. Yang aku tahu ia adalah sebangsa Werewolf. Pantas saja wajahnya begitu lelaki dan cukup garang. Tampan sekali.
"Ba..baik, Pak." ucapku terbata-bata lalu menunduk. Ah malu sekali, Kyungsoo melihat ke arahku dan ia tersenyum. Bodohnya aku!

Istirahat telah tiba. Aku dan Kungsoo pergi makan siang bersama di atap sekolah.
"Annyeong, mian, karena membuatmu menunggu lama." ucap Kyungsoo yang baru saja menginjakkan kakinya di atap.
"Gwaencanha. Apa yang kau buat hari ini?" tanyaku sambil membuka kotak bekal yang ku bawa.
"Hanya sandwich, hari ini aku kesiangan dan tidak sempat memasak." ucapnya bersedih.
"Ah tidak apa, buka mulutmu. Hari ini aku membuat bekal sendiri loh. Mau coba?" tawarku sedikit memaksa. Kyungsoo mengambil satu telur gulung buatanku dan melahapnya.
"Kau lumayan pintar juga. Tapi, kurangi garamnya." Kyungsoo memang ahli dalam memasak. Aku sangat senang apabila dia mengkritik masakanku. Kami pun menghabiskan bekal kami dan kembali ke kelas.

"Hari yang menyenangkan!" seruku puas dengan hari ini. Aku menjatuhkan badanku ke atas tempat tidur yang bersprei corak kelopak mawar merah. Kesukaanku.
"Kimi, kau masih bersama anak itu ya?" tiba-tiba Xiumin muncul, berada tepat di atas badanku.
"Apa urusannya denganmu?" balasku.
"Apa kau akan menghisap darah bocah laki-laki lemah itu?" Xiumin bertanya dengan posisi yang masih sama.
"Oppa, aku tidak pernah memikirkan hal kotor seperti yang kau pikirkan." ucapku sambil memalingkan muka darinya.
"Ne.. Kau tahu Kimi? Kalau ayah sampai tahu hal ini, mungkin ia akan memaksamu berpisah dengan bocah itu." ucap Xiumin yang segera bangkit dari posisinya. Lalu ia pun duduk disamping kananku. Aku hanya tertunduk. Ya tentu saja aku tahu resiko itu. "Oya, si manusia serigala telah menunggumu di ruang tamu." ucap Xiumin sambil menepuk pundakku.
"Kai atau Luhan?" tanyaku bergegas berdiri dari tempat tidur.
"Cek saja." jawabnya.
"Thankyou, Oppa. Saranghae." aku tersenyum dan mencium pipi Xiumin.
“Wa!!” Xiumin kaget dan memegangi pipinya, lalu ia membalas tersenyum kepadaku.

Aku berlari ke ruang tamu dengan semangat.
"Ah..Kai.. aku merindukanmu!" seruku saat menuruni tangga dan melihat sosok Kai, teman yang sudah kuanggap sebagai kakak laki-lakiku sendiri setelah ketiga Oppa kandungku tentunya. Ia adalah teman semasa kecilku. Aku berlari dan memeluk Kai erat.
"Kau bertambah besar ya." ucap Kai sambil membalas memelukku.
"Dimana Luhan?" tanyaku sambil melepaskan pelukanku.
"Dia tidak bisa datang berkunjung, tapi dia menitipkan salam untukmu." ucap Kai.
"Hm, baiklah."
Aku dan Kai pun berbincang-bincang. Kami saling bertukar cerita.
"Kai, menurutmu, bagaimana kalau aku mencintai seseorang dari bangsa lain?" tanyaku.
"Bangsa lain? Siapa yang kau maksud? Itu pasti aku kan? Hahaha.." ledek Kai sambil tertawa.
"Pabo! Aku serius Kai." ucapku kesal sambil memukul tangannya yang cukup kekar itu.
"Kalau kau memang yakin mencintainya dan ia juga mencintaimu, itu tidak masalah." ucap Kai sambil menyeruput teh yang baru saja dibuatkan oleh Lay.
"Kau masih membahas laki-laki itu, Kimi?" tanya Lay yang baru saja duduk bergabung dengan kami.
"Ah teh yang lezat, Lay. Memangnya dari bangsa apa lelaki itu? Zombie? Mermaid? Atau…." tanya Kai yang sedang asik menikmati tehnya.
"Sebaiknya kalian berdua istirahat, karena ini sudah larut malam. Kai, kau tidur di kamar tamu saja, akan aku antar." ucap Lay memotong dan mengakhiri pembicaraan kami.
Kai menggeleng, "Terimakasih atas tawaranmu, Lay. Tapi aku masih ada urusan. Sampai jumpa lagi Kimi." ucap Kai sebelum menghilang dibalik pintu. "Selamat malam adik kecilku." sambung Kai sambil tersenyum dan mengedipkan mata kirinya ke arahku. Aku pun tersenyum kepadanya.
“Kalau begitu, biar aku antar adik manisku ini ke kamarnya.” Lay bangkit dari sofa dan mengantarku ke kamar.

Hari berlalu seperti biasa. Aku dan Kyungsoo sedang duduk berdua di atap sekolah, suasana langit yang cerah dan angin yang berhembus begitu lembut sangat menenangkan hatiku, ditambah ada Kyungsoo di sampingku, membuatku semakin merasa tenang.
"Kimi, apa kau yakin hubungan kita berdua tidak bermasalah bagi keluargamu?" tanya Kyungsoo cemas. "Hubungan kita sudah berjalan hampir 2 tahun." sambungnya.
"Apa kau tidak percaya kepadaku, Kyungsoo?" aku balik bertanya.
"Aku mempercayaimu, tapi aku tidak bisa terus begini, membiarkanmu tersiksa sendirian. Aku tahu kau menahan sakit demi aku kan?" Kyungsoo menatap mataku begitu dalam, ia pun memelukku erat. "Kalau aku harus berubah menjadi sebangsamu, aku akan melakukan itu. Selama kita bersama aku akan melakukannya demi kau, Kimi." Ucapnya begitu lembut, tangannya membelai helai demi helai rambutku. Aku hanya diam dalam pelukannya yang begitu hangat. Aku dapat mendengar detak jantungnya dan aliran darahnya yang mengalir di seluruh tubuhnya. Aku bisa saja menggigit Kyungsoo sekarang. Tapi.. aku tidak mau melakukan hal seperti itu.
"Percaya padaku. Cukup kau percaya padaku, aku tidak apa-apa." ucapku sambil berbalik memeluknya. Kami saling bertatapan mata dan berciuman. Kehangatan pelukan dan ciuman Kyungsoo membuatku semakin mencintainya.

Suasana di rumah berubah menjadi begitu gelap. Appa mengetahui hubungan yang ku jalin dengan Kyungsoo yang berasal dari banga manusia. Appa marah besar kepadaku.
"Park Ki Mi, tinggalkan manusia itu! Kamu tahu kan Manusia dan bangsa Vampire seperti kita mustahil untuk saling mencintai dan bersatu." bentak Ayah setibanya aku di rumah.
"Tapi Appa, aku mencintai Kyungsoo dan dia juga mencintaiku. Kyungsoo berbeda dari manusia yang lain, ia sangat baik dan mencintaiku dengan tulus. Bukankah Appa dan Eomma dulu juga seperti itu?" aku membela diri.
"Appa, Kimi berkata benar. Mereka saling mencintai, apa salahnya Ayah menyetujui hubungan mereka?" Xiumin tiba-tiba muncul di belakangku dan ia membelaku. Lay dan Tao, mereka pun ikut angkat bicara.
"Appa, biarkan Kimi mencintai lelaki itu. Ia laki-laki yang bertanggung jawab. Aku bisa memastikannya." Lay ikut membelaku.
"Apa-apaan kalian ini? Hal yang salah tidak semestinya kalian bela!" Ayah membantah.
"Ya! Kalian semua terlalu berisik!” Tao menghela nafasnya. “Appa, dulu Eomma merupakan bangsa Manusia juga kan? Dan Appa menikahi Eomma tanpa mengubahnya menjadi Vampire, apa aku salah? Lalu, tidak masalah bukan kalau Kimi mencintai Do Kyungsoo?" Tao angkat bicara, ia kesal dengan keributan yang aku perbuat. Tao memang dingin dan keras. Tapi sebenarnya ia sangatlah lembut dan baik kepadaku.
Appa diam sejenak dan angkat bicara. "Appa hanya khawatir kalau lelaki yang kau cintai itu tidak bisa menerimamu apa adanya. Tidak bisa menjagamu. Karena kau satu-satunya putri yang Appa miliki, kau persis seperti Eommamu tapi sifatmu seperti Appamu ini. Semua terserah kepadamu, Appa hanya akan melihatmu dan memperhatikanmu." Appa kembali ke dalam ruangannya dan meninggalkan kami berempat.

“Appa….” Isakku. Aku masih berdiri dan menangis, entah mengapa aku merasa air mata ini tidak bisa berhenti, bahagia atau sedih? Aku hanya ingin menangis. Lay dan Xiumin mencoba menenangkanku yang masih terus menangis. Xiumin bertingkah konyol untuk menghiburku, tapi itu percuma. Lay memelukku begitu lembut.
"Sebaiknya kau istirahat, Kimi." Lay membantuku berjalan ke kamar.
"Hentikan tangisanmu yang tak berguna itu. Pabo!" ucap Tao sambil menyeka air mata yang jatuh di pipiku. Xiumin hanya tersenyum dan berlagak konyol lagi seperti biasa. Aku pun tertawa kecil oleh tingkah laku yang diperbuatnya. Ketiga kakak laki-lakiku pun mengantarku ke kamar.
"Selamat tidur adik kecilku." ucap Xiumin dengan senyumannya.
"Jangan pikirkan kejadian tadi." Lay menyelimutiku.
"Merepotkan saja." Tao, kembali ke sifat awalnya, dingin dan berlidah tajam.
"Gomawo, Oppa."

Semenjak kejadian semalam, aku pun bisa kembali merasakan bagaimana rasanya tidur dengan nyenyak tanpa beban pikiran. Aku bermimpi begitu indah. Seakan-akan mimpi burukku selama ini telah berhasil terhapus. Appa yang telah merestuiku dan ketiga Oppa—Lay, Xiumin dan Tao yang ikut membelaku semalam membuatku bahagia, Kyungsoo akhirnya aku bisa bersatu denganmu.

7 hari telah berlalu. Aku pun terbangun dari tidurku yang panjang.
"Aku..dimana?" aku terbangun dan melihat ke sekeliling ruangan. Ternyata aku masih berada di kamarku.
"Park Ki Mi, sarapannya sudah siap." suara yang tidak asing bagiku. Apa itu. "Selamat pagi nona muda, apa anda haus dan lapar setelah tertidur cukup lama?" Kyungsoo—lelaki yang aku cintai. Ia tepat berada di hadapanku.
"Bagaimana kau bisa masuk kesini?" tanyaku heran sekaligus kaget melihat Kyungsoo yang benar-benar nyata berada tepat di hadapanku.
"Appa mu, aku sudah berbicara kepadanya. Ternyata kau memang Vampire sungguhan ya." Kyungsoo menaruh nampan berisi sarapan di atas meja kecil tepat di samping kanan tempat tidurku.
"Apa kau akan takut kepadaku setelah mengetahui bahwa aku Vampire sungguhan?" tanyaku cemas.
Jari Kyungsoo memegang daguku dan mengangkat wajahku perlahan. Ia menatapku dan mencium keningku. Ia pun tersenyum dengan senyuman khasnya.  Senyuman yang membuat jantungku berdebar dan jatuh hati padanya. "Tentu saja tidak, aku semakin mencintaimu, Park Ki Mi. Ayo sarapan, aku yang memasak." ucap Kyungsoo bersemangat.
"Oya? Kelihatannya lezat. Kyungsoo…saranghae." aku menangis bahagia dan memeluk Kyungsoo erat. Ia sedikit terkejut karena aku memeluknya tiba-tiba, hampir saja sarapan yang telah dibuatnya terjatuh sia-sia ke lantai. Ia membalas pelukanku.
 "Saranghae, Park Ki Mi." Kami pun berciuman dan akhirnya cinta kami berdua bisa menyatu. Terimakasih Appa. Terimakasih Kakak-kakakku, aku menyayangi kalian.

"Kyungsoo, aku haus." Kyungsoo membuka dua kancing kemeja bajunya dan menarik kerah kemejanya membuat lehernya terlihat lebih jelas, lalu jari telunjuknya menunjuk ke arah lehernya yang masih belum pernah ku sentuh oleh gigitanku. "Kalau kau haus, aku siap kapan saja. Apa kau ingin mencobanya sekarang?”
 Aku mencubit pipinya pelan, "Ya! Pabo." Kami berdua tertawa seperti orang bodoh. Saranghae namjachinguku.. Do Kyungsoo.


~ ~ ~

Tamat.

You May Also Like

0 komentar